Loading...

Senin, 28 November 2011

CERITA RAKYAT MALUKU

ASAL MULA MAHAKIRI, AMAHAI,
LUHU, DAN PORTHO

                Dahulu daerah nunusaku merupakan pusat kegiatan pulau seram yang biasa juga disebut nusa ina. Penduduknya mulai tersebar ketempat-tempat lain yang dipimpin olah orang kapitan. Mereka berempat bermusyawarah untuk menyepakati tujuan arah pengembaraannya. Sasaran mereka yaitu akan mengilir sepanjang sungai talasebab sungai ini memilki banyak kekayaan alam.
                Persiapan temasuk segala perbekalan dalam perjalanan dikemas cepat. Sebagaimana biasa upacara adat pun diadakan sebelum mengadakan perjalanan yaitu dengan berjalan kaki kenegri watui. Disana mereka mulai mengerjakan sebuah rakit (gusepa)yang dibuat dari batang bilah-bilah bambu. Rakit ini dipakai untuk menghilir sungai tala.berbeda dengan air laut, air yang terdapat didaratan yaitu air air didalam tanah dan air disungai, semuanya berasal dri air hujan. Air ini rasanya tidak asin. Disamping kekayaan alam, sungai tala ini terkenal juga dengan keganasan dan terdapat banyak batu-batu besar disepanjang alirannya.
                Pelayaran pun dimulai dan sebagai pemimipinnya adalah kapitan nunusaku yang juga merupakan besar dari tiga batang turunan moyang patola. Kemudian, moyang inilah yang akan menjadi moyang dari mata rumah wattimena wael di Mahariki. Harta milik  kapitan dibawahnya dan lupa pula seekor burung nuri atau burung kasturi raja. Sayang ditinggalkan karna nuri berwarna terang.apalagi nuri menyukai hiruk-pikuk dan suka berkelompo, jadi cocok dibawa dalam perjalanan. Selain itu nuri mereka juga membawa pinang putih yang diletakkan dalam sirih pinang.
                Di belakang kemudi duduk kapitan yang akan menjadi moyang dari mata rumah Wattimury. Di tengah rakit adalh kapitan yang akan menjadi moyang nanlohy. Di belakang sebelah kanan duduk kapitan yang akan menjadi nenek moyang Talakua.
                Kapitan Nanlohy ditunjuk untuk menjaga harta milik mereka. Di dalam hukum adat ia brtindak sebagai kepala dati yang akan menentukan pembagian-pembagian baik milik pribadi maupun milik bersama.oleh sebab itu semua harta dan perbekalan diletakan ditengah rakit berdekatan dengan kapitan Nanlohy.
                Peleyaran dimulai dan mereka berempat hanyut dengan rakit karena kekuatan air yang mengalir turun menuju Tala. Begitu tiba ditempat yang disebut batu Pamali\rakit mereka kandas dan hampir terbalik. Kapitan Wattimena wael terkejut dan berteriak kepada kapitan yang berada didekatnya, “Talakuang!” yang artinya’tikam tahan gusepa’.dengan demikian, kapitan yang mendapatkan tugas tersebut dinamakan “Talakua”yang kemudian menjadi moyang dari mata rumah Talakua di negri portho hingga kini.
                Ketika rakit hampir terbalik,Kapitan Wattimena Wael sementara membuka tempat sirih pinangnya untuk makan, tetapi tib-tiba jatuh. Pada saat yang sama burung nuri pun terbang.kejadian ini sangat mengecewakan kapitan dan langsung mengucapkan dan mengikrarkan sumpah yang merupakan pantangan bagi mata rumah Wattimena Wael dan para menantu tidak boleh memelihara burung nuri dan memakan sirih pinang. Kemudian Batu yang ada di sungai tersebut dinamakan batu pamali hingga sekarang.
                Perjalanan pun dilanjutkan hingga tiba di Tala. Di san amereka membuat perjanjian dengan menanam sebuah batu perjanjiandan dinamakan manuhurui kemudian berubah huse. Perjanjian yang mereka ingkarkan ialah walaupun nanti bercerai berai hubungan persaudaraan yang terbina selama ini haruslah dipertahankan. Selain itu pula mereka hrus saling tolong menolong dalam segala hal, kunjug mengunjungi satu dengan yang lain. Tempat ini kemudian suatu batu pertanda kenangan-kenangan dari negri Mahariki, Amahai, Luhu,dan Portho.
                Beberapa hari kemudian selesai proses perjanjian, Kapita Wattmena Wael dan Kapitan Wattimury sedang tidur, ketika itu pula Ketika itu Kapitan Nanlohy dan Kapitan Talakuanaik keatas rakit untuk bermain-main. Tetapi rakit itu hanyut terbawa arus semakin jauh dari tengah lau. Wattimury terbangun dan melambaikan tangan melihat rakit mereka hanyut bersama Kapitan Nanlohy dan Kapitan Talakua yang terkatung-katung di tanjung Hualoi. Kapitan Nanlohy membalas lambaian tangan kedua kapitan yang ada di daratan tetapi mereka tidak bisa kembalil. Niat untuk berenang kembali kedarat tidak tercapai jarena letih dan tak mampu berenang melawan arus. Selanjutnya mereka terdampar ditempat yang bernama Nanuluhu yang berarti ‘berenang dan terdampar di Hulu’.
                Selanjutnya, Kapitan Talakua sendiri terus hanyut terbawa arus hingga melewati Tanjung Uneputty. Pelayaran hanyut ini akhirnya terdampar juga pada suatu teluk dipulau saparua. Disana dibangunnya negri yang diberi nama portho. Hal ini didengar oleh Kapitan Nanlohy dan beliau pun pun pindah dari Luhu ke Portho. Untuk hidup bersama.
                Keadaan Kapitan Wattimena Wael dan Wattimury tetap mendiami daerah Manuhurui di kampun sanuhu. Mereka hidup saling mengasihi dan banyak sahabatnya, antara lain kapitan kampung tersebut. Kapitan ini kemudian dijadikan pengintai oleh Kapitan Wattimena Wael. Suatu ketika kedua kapitan mendengar berita dari pengintai bahwa ada kapitan dari gunung sembilan bersama laskarnya. Mereka sedang menuju negeri di mana kedua kapitan berada dengan tujuan akan membunuh. Kedua kapitan bersiap-siap untuk menantang musu apabila mereka diserang.  Namun hal ini tidak terjadi karena ternyata lawannya tidak ada.
                Di tempat persembunyian mereka yang sangat aman tetapi tak ada air. Tiba-tiba kapitan Watimena Wael berdiri mengambil tombak dan langsung ditancapkan ke tanah. Saat itu pula mencuatlah air dari dalam tanah. Dengan demikian mereka boleh makan dan minum banyak sekenyang-kenyangnya. Oleh karena itu tempat itu diberi nama “Hule” (‘kekenyangan’).
                Kemudian, kedua kapitan ingin melanjutkan perjalanan membuka daerah baru. Penduduk di kampung tersebut tak rela melepaskan kedua kapitan. Tetapi, karena kedua kapitan berkeras hati, akhirnya mereka dilepaskan juga. Sebelum berpisah mereka saling berjanji untuk saling membantu dan mengujungi.
                Perjalanan pun dilanjutkan ke arah sepanjang Seram Selatan hingga ke bagian timur tempat yang bernama Boboth. Walau pun hari hampir malam, mereka belum juga mendapatkan tempat yang baik. Mereka pun kembali ke selatan dan tiba-tiba Kapitan Wattimuri diajak berhenti oleh Kapitan WattimenaWael sambil berkata, “Di sini kita berhenti dan akan membuat suluh (lobe), kemuduian kita akan melanjutkan prjalanan. Tempat dimana suluh itu padam disitulah kita akan membangun. “ Kapitan Wattimuri segera memebuat suluh besar dan mereka langsung berjalan. Ketika suluh itu padam mereka behenti dan mendirikan kediaman mereka yang disebut “Japisuru” atau “Api Lobe”. Nama ini kemudian diganti dengan nama Mahariki.
                Beberapa lama kemudian Kapitan Waimuri minta diri unuk pindah. Tempat yang akan dituju jauhnya kira-kira 7km dari Japisuru. Selanjutnya tempat ini diberi nama “Amahai”. Akhirnya nama ini berupa pula mejadi “Ruta’ hingga kini


























BUAYA TEMBAGA

           
            Pulau Ambon Manise yang terletak di jazirah lei Timur dan jazirah lei Hitu adalah salah satu pulau yang indah di Indonesia. Di sana terdapat lautan yang membiru berisika ikan-ikan yang dapat terbang jauh mencecah laut.  Di tempat yang indah ini terdapat pula burung camar yang turun naik terbang di atas gelomban setelah lesu berkelana. Apalagi taman lautnya yang berisi ikan macan bergerombol-gerombol di dalamnya. Begitu indah taman lautnya, tak terkira oleh mata dan tak terukir oleh rasa.
                Tak jauh dari jazirah Lei Timur terdapat sebuah kota, yang diberi nama Ambon. Kota ini dikelilingi pohon Sagu yang melambai-lambai dan pohon mintanggor yang tumbuh di tepi pantai. Alam ini memberi kesejukan ketika kita akan menghirup udara lautnya. Apalagi kita ingin ramai-ramai ingin naik arumbae. Dengan hembusan angin laut para nelayan berlabuh tenang di pelabuhan. Pemandangan yang indah itu memberi kita suasana damai dan tentram bahkan dapat memberi inspirasi yang baik.
                Konon di kota yang banyak dipuja itu tersimpan suatu kisah yang hampir punah. Kota Ambon yang terletak pada kedua jazirah itu dihubungkan oleh satu tanah genting yang bernama Tanah Genting Baguala. Tanah ini merupakan penghubung antar Teluk Ambon dan Teluk Baguala. Pada waktu zaman Jepang mereka mengusahakan daerah yang menjadi penghubung ini di kuatkan oleh satu terusan tetapi gagal.
                Konon ketika mereka sedang menggali tanah genting keluarlah darah. Selain darah yang keluar ternyata terdapat seekor buaya yang besar. Panjang badannya kira-kira 5 meter dan warna kulitnya kuning. Oleh sebab itu penduduk di sana memberi nama Buaya Tembaga. Alam sekitar Baguala membuat keadaan aman dan tentram penuh kenyamanan bagi Buaya Tembaga itu. Apalgi penduduknya sangat memuja buaya tersebut.
                Tak jauh dari tempat itu, di pesisir pantai selatan Pulau Buru, hiduplah seekor ular di atas sebatang pohon besar. Pohon ini senantiasa tumbuh di tepi pantai dan selalu condong ke arah laut. Ular itu sangat mengganggu ketentraman hidup semua penghuni terutama penghuni laut sekitarnya. Hampir semua jenis ikan hias dan ikan yang enak dan mengandung banyak protein ditelannya. Buaya besar dan kecil pun digigit kemudian menjadi santapan yang lezat baginya.
                Kehidupan ikan-ikan dan buaya-buaya yang berada disitu selalu diserbu dan terancam oleh ular tersebut. Hal ini menyebabkan mereka  terpaksa mengadakan musyawarah besar untuk mengatasi atau membasmi ular itu. Keputusan musyawarah besar mereka menyatakan bahwa yang dapat menantang ular itu adalah “Buaya Tembaga”. Oleh karena itu mereka akan meminta bantuan kepadanya.
                Setelah selesai bermusyawarah mereka mengirim utusan untuk bertemu dengan Buaya Tembaga. Tujuannya yaitu meminta bantuan agar dapat menghancurkan ular pemangsa tersebut. Sekaligus pula menjemput Buaya Tembaga dari Teluk Baguala. Sementara itu ikan-ikan dan buaya yang lain mempersiapkan upacara penyambutan.
                Setiba mereka disana Buaya Tembaga mengabulkan permohonan mereka dan bersedia untuk berangkat bersama-sama utusan menuju pantai selatan Pulau Buru. Dalam perjalanan mereka saling bertukar pendapat langkah-langkah apa yang akan dikerjakan. Dan sambil menikmati perjalanan mengarungi lautan mereka juga mengamati genangan air dicelah-celah batu. Mereka melihat hewan-hewan lain yang merayap berenang, bakung laut, kerang limpet, keong laut dan kepak, bakung laut, dan hewan-hewan yang aneh lainnya, yang kalau air pasang, badannya memekar mereka pun melihat kerang limpet yang biasa hidup dipantai berbatu. Hal ini memberi pertanda bahwa tempat yang mereka tuju sudah dekat. Burung-burung laut pun seperti ganet, camar, kormoran, mandor, dan lain-lain sudah mulai tampak.
                Mereka tiba waktu pasang surut karena keong-keong laut sedang bersembunyi di celah-celah ganggang gelombang. Bahkan kerang limpet mulai nampak melekat erat pada batu-batu. Setibanya mereka disana Buaya Tembaga disambut denga meriah dalam satu upacara yang meriah. Upacara pun dihadiri oleh para penghuni laut seperti keong laut, kepak berjenis ikan, para buaya, berjenis-jenis burung laut, kepiting, kelomang, tikus laut bahkan cacing-cacing laut. Mereka beramah-tamah, bersukariah dengan Buaya Tembaga selama dua hari.
                Pada hari ketiga Buaya Tembaga mulai melaksanakan tugas yang telah dipercayakan kepadanya. Ia mulai berjalan, berenang kesana kemari mengintai musuhnya dan mendekati pohon mintanggor. Ketika melalui pohon tersebut ular dan Buaya Tembaga saling berpapasan. Dengan cepat ular itu melilitkan ekornya pada batang mintanggor tadi dan menjulurkan badannya ke laut seraya memagut Buaya Tembaga.
                Tindakan ular itu segera ditangkis dan Buaya Tembaga dengan memukulkan ekornya. Perang tanding terjadi antara keduanya dan peristiwa ini disaksikan oleh semua penghuni laut yang berada di sekitar tempat itu.  Hal ini terjadi beberapa hari lamanya.
                Ketika pertarungan sudah berlangsung selama 2 hari terjadilah saat-saat yang menentukan pemenangnya. Ular, sebagaimana biasanya, melilitkan ekornya keras-keras pada pohon mintanggopr dan memagut mata Buaya Tembaga. Pukul balasan dari Buaya Tembaga sangat jitu dan keras dengan menghempaskan ekornya kearah kepala ular. Keadaan itu terjadi berulang kali. Akhirnya lilitan ekor ular terlepas dari batang pohon mintanggor dan terhempas kelaut dan berakhirlah riwayatnya.
                Penghuni laut serentak bersorak-sorai melihat keadaan itu. Semua menyaksikan pertarungan seru yang menghancurkan musuh keparat itu. Buaya Tembaga dielu-elukan atas kemenangan itu. Dengan demikian mereka telah luput dan bebas berada didaerahnya. Hadiah pun disiapkan untuk diserahkan kepada Buaya Tembaga. Penghargaan pertama atas jasanya dianugerahkan “Yang dipertuan di Daerah Teluk Baguala”. Hadiah itu diberikan pada sebuah tagala (besek) dan diisi dengan beberapa jenis ikan seperti ikan parang, make, papere, dan salmaneti.
                Setelah itu, Buaya Tembaga pun bertolak kembali menuju ke tempat kediamannya dengan membawa kemenangan berupa hadiah berjenis-jenis ikan. Sejak itu maka berkembang biaklah ikan-ikan itu di Teluk Baguala. Oleh karena itu, hingga kini ikan jenis itu sangat banyak terdapat diteluk tersebut. Bahkan ada dari penduduk yang percaya, terutama yang berada di sekeliling teluk itu bahwa bila Buaya Tembaga itu timbul itu pertanda akan datang banyak ikan. Sehingga masyarakat siap-siap akan menangkap ikan dan dijual sebagai mata pencahariannya. Pemunculan Buaya Tembaga membawa keuntungan bagi penduduk Baguala.   

2 komentar:

  1. mantap d ceritanya... kalo bisa tolong carita lebih banyak tentang moyang patola..

    BalasHapus
  2. @aguslatu : ok dech bang nnt d'post brikutnya pst ak hdr crita rakyat lbh mnrik dri ini lagi..

    BalasHapus